Studi Eksperimental Kuat Tekan Beton Menggunakan Agregat Kasar dari Limbah Botol Plastik PET
Keywords:
Beton, Limbah Plastik PET, Agregat Kasar, Kuat Tekan, Ramah LingkunganAbstract
Limbah plastik, khususnya yang berasal dari botol minuman jenis Polyethylene Terephthalate (PET), merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang terus meningkat di Indonesia. Upaya pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan bangunan menjadi alternatif yang potensial untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah plastik PET sebagai substitusi agregat kasar terhadap kuat tekan beton. Variasi persentase penambahan PET yang digunakan adalah 0% (beton normal), 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10% dari berat agregat kasar dengan ukuran lolos saringan 19 mm dan tertahan saringan 4,75 mm. Benda uji yang digunakan berupa silinder berukuran 150 mm × 300 mm dengan pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 14 hari dan 28 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa workability beton meningkat seiring dengan bertambahnya kadar PET. Nilai slump naik dari 8,3 cm pada beton normal menjadi 10,1 cm pada campuran dengan PET 10%, yang menunjukkan peningkatan plastisitas campuran beton. Namun demikian, hasil uji kuat tekan menunjukkan adanya penurunan kekuatan beton seiring bertambahnya kadar PET. Pada umur 14 hari, kuat tekan beton normal sebesar 16,09 MPa menurun menjadi 12,81 MPa, 13,17 MPa, 11,56 MPa, dan 10,33 MPa masing-masing untuk kadar PET 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%. Pada umur 28 hari, kuat tekan beton normal sebesar 22,34 MPa menurun menjadi 16,79 MPa, 18,71 MPa, 14,34 MPa, dan 13,15 MPa untuk variasi kadar yang sama. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin besar kadar limbah plastik PET yang digunakan, kuat tekan beton cenderung menurun. Namun pada kadar sekitar 5%, beton masih menunjukkan kekuatan yang relatif baik dan memenuhi syarat penggunaan tertentu. Oleh karena itu, limbah plastik PET dalam jumlah terbatas dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi agregat kasar untuk menghasilkan beton yang lebih ramah lingkungan tanpa menurunkan kualitas beton secara signifikan.





